Langsung ke konten utama

Tiga

Setidaknya hari ini puan mengerti,
Gundah yang sering kali ada,
Hanyalah tanda tuan tak lagi bercahaya dalam hati puan.

Puan menyesali mungkin tindak baik puan hanya perkara sebab menaruh hati pada tuan.
Setidaknya puan kerap kali mendahulukan perihal tuan.

Puan tak bisa bergaung lantaran puan hanya ingin begini.
Bahagia saja,  karena tuan begitu senang.
Tak peduli bagaimana tuan,
karena sejatinya puan hanya senang tau kabar tuan nampaknya sehat.

Puan merasa tuan lama tak bersua,
Puan mengerti tak perlulah puan tau segala tentang tuan.
Puan memang tak perlu menjadi apapun untuk tuan.
Puan juga tau tuan tak perlu curiga,  benar memang puan lama sudah buta karena tuan.

Maaf, kalau saja puan salah tafsir.
Mungkin seringkali puan mengira tuan nampak berlebihan baik pada puan.
Inilah puan yang lemah tuan.

Tapi untungnya puan tak pernah banyak meminta.
Sebabnya bagi puan,  tak pernah ada masalah karena selama ini pula

Tak pernah tuan tau
Tak mau tuan tau
Tak begitu tuan tau

Puan tak pernah berubah sejak detik itu.
Sayangnya,  kini telah tiga waktu puan lewati. 

Tiga waktu kembali dan kembali.
Puan simpan saja tuan dalam aksara

Abadi sajalah tuan disana.
Sebab kejamnya waktu,  puan berterima kasih karena mungkin akan ada detik puan lupa pernah mendamba.

Jadi,  biarlah tuan tetap ada
Lewat bait inilah puan mengenang
Tapi disinilah akhir tuan bernyala
Tuan tak pernah pergi,  cukuplah temaram dalan hati puan.

Puan, 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himpunan Kosong

Kita dalam satu semesesta Dari sekian banyak populasi Kita adalah melebur jadi satu Dalam setiap kemungkinan yang terjadi Kitalah penyusun setiap kemungkinan Kejadian-kejadian acak dalam satu ruang Sayangnya, Semesta saja tak cukup menyatukan Kitalah sebuah elemen soliter Irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Maka kemudian kita saling lepas Kita dalam satu semesta Tapi irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Nyatanya "kita" hanyalah bagian kemungkinan kejadian

Tidur Sendiri di Malam yang Gelap

Aku memilih malam yang hening Ketika kening saling bertemu Adakalanya aku mensyukuri gelap Padahal artinya sulit terlelap Adakalanya aku menyukai takut Agar aku punya alasan, jadilah kamu disampingku Aku menyukainya, Cukuplah mengelus kepalaku Akupun terlelap dalam gelap. Tetaplah menepuk pundaku Biarkan jadi tanda kehadiranmu Aku akan tetap mematikan lampu Dan memanggilmu esok malam. Aku mendengar doamu-doamu, Karena malam terlalu hening - Sekarang aku jadi tidur sendiri Aku pula menyalakan lampu Bukan perkara takut,  ayah tenang saja. Sayup-sayup aku tetap merasakan bayangmu mataku tertutup kemudian. Selamat malam dan selamat tidur. Jangan lupa berdoa. -Malam hari di akhir maret 2018.

Belahan Jiwa

7 Juli 2017 8.02 Menyadarinya sejak awal Kalau saja berjalan lebih jauh dari ini Maka tak ada arah untuk kembali Tapi tetap saja Berjalan Hanya ingin berusaha Lebih keras lagi Siapa tau Itu berubah Langkah ini Harus dipercepat Atau justru diperlambat Jalan ini sudah jelas akhirnya Melintasi imaji Memaksa untuk tetap berada disini Berharap Tak ada yang tergangu Karena sudah terlambat untuk kembali Mungkin masih bisa Mungkin itu akan berubah Tapi bahkan sampai detik ini Meski telah tampak telanjang Apa-apa yang ada dalam benak Tak ada yang berubah Tak peduli seberapa lama lagi Kaki ini menopang Masihkah tak akan berubah Memang harus berhenti Sepenuhnya sadar untuk berhenti Ini telah mencapai batas Kaki-kaki tak lagi melangkah Tunduk akan akal Meski tak tau bagaimana dengan hati Takdir. Untuk menyerah.