Langsung ke konten utama

Tidur Sendiri di Malam yang Gelap

Aku memilih malam yang hening
Ketika kening saling bertemu

Adakalanya aku mensyukuri gelap
Padahal artinya sulit terlelap

Adakalanya aku menyukai takut
Agar aku punya alasan, jadilah kamu disampingku
Aku menyukainya,
Cukuplah mengelus kepalaku

Akupun terlelap dalam gelap.

Tetaplah menepuk pundaku
Biarkan jadi tanda kehadiranmu
Aku akan tetap mematikan lampu

Dan memanggilmu esok malam.

Aku mendengar doamu-doamu,

Karena malam terlalu hening
-
Sekarang aku jadi tidur sendiri
Aku pula menyalakan lampu
Bukan perkara takut,  ayah tenang saja.
Sayup-sayup aku tetap merasakan bayangmu
mataku tertutup kemudian.

Selamat malam dan selamat tidur.
Jangan lupa berdoa.

-Malam hari di akhir maret 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himpunan Kosong

Kita dalam satu semesesta Dari sekian banyak populasi Kita adalah melebur jadi satu Dalam setiap kemungkinan yang terjadi Kitalah penyusun setiap kemungkinan Kejadian-kejadian acak dalam satu ruang Sayangnya, Semesta saja tak cukup menyatukan Kitalah sebuah elemen soliter Irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Maka kemudian kita saling lepas Kita dalam satu semesta Tapi irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Nyatanya "kita" hanyalah bagian kemungkinan kejadian

Belahan Jiwa

7 Juli 2017 8.02 Menyadarinya sejak awal Kalau saja berjalan lebih jauh dari ini Maka tak ada arah untuk kembali Tapi tetap saja Berjalan Hanya ingin berusaha Lebih keras lagi Siapa tau Itu berubah Langkah ini Harus dipercepat Atau justru diperlambat Jalan ini sudah jelas akhirnya Melintasi imaji Memaksa untuk tetap berada disini Berharap Tak ada yang tergangu Karena sudah terlambat untuk kembali Mungkin masih bisa Mungkin itu akan berubah Tapi bahkan sampai detik ini Meski telah tampak telanjang Apa-apa yang ada dalam benak Tak ada yang berubah Tak peduli seberapa lama lagi Kaki ini menopang Masihkah tak akan berubah Memang harus berhenti Sepenuhnya sadar untuk berhenti Ini telah mencapai batas Kaki-kaki tak lagi melangkah Tunduk akan akal Meski tak tau bagaimana dengan hati Takdir. Untuk menyerah.