Langsung ke konten utama

Rasa

28 Juni 2017 21.57

Kala Jantung berdebar 
 Pipi merona
 Hati berapi 
 Mata tak berkedip 
 Itu rasa 
 Tapi tak cukup kuat 

Kala Terpaksa tersenyum 
 Terpaksa bahagia 
 Terpaksa menangis 
 Terpaksa mencinta
 Itu bukan rasa 

Kalau terbiasa
 Mungkin jadi rasa? 

Rasa-rasanya hampir mati 
 Kalau tak melihatnya 
 Kalau tak memanggil namanya 
 Kalau tak bisa menyentuhnya 
 Kalau tak memilikinya
 Ini rasa Atau Nafsu?

Lelah juga Bosan jua
 Bersama tapi tak bersua
 Ahh tak benar-benar merasa 
 Ada satu rasa

Tak tau rupa Hanya nama
 Tak tau ada Tapi percaya amat ada 
 Tak terlihat
 Tapi merasa amat dekat
 Merindukan yang belum pernah bertemu 
 Ah tidak Pertemuan itu sering 
 Hanya merasa selalu bertemu 
 Namanya juga terus dipanggil 
 Meski tak berbalik memanggil 

 Itulah rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himpunan Kosong

Kita dalam satu semesesta Dari sekian banyak populasi Kita adalah melebur jadi satu Dalam setiap kemungkinan yang terjadi Kitalah penyusun setiap kemungkinan Kejadian-kejadian acak dalam satu ruang Sayangnya, Semesta saja tak cukup menyatukan Kitalah sebuah elemen soliter Irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Maka kemudian kita saling lepas Kita dalam satu semesta Tapi irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Nyatanya "kita" hanyalah bagian kemungkinan kejadian

Tidur Sendiri di Malam yang Gelap

Aku memilih malam yang hening Ketika kening saling bertemu Adakalanya aku mensyukuri gelap Padahal artinya sulit terlelap Adakalanya aku menyukai takut Agar aku punya alasan, jadilah kamu disampingku Aku menyukainya, Cukuplah mengelus kepalaku Akupun terlelap dalam gelap. Tetaplah menepuk pundaku Biarkan jadi tanda kehadiranmu Aku akan tetap mematikan lampu Dan memanggilmu esok malam. Aku mendengar doamu-doamu, Karena malam terlalu hening - Sekarang aku jadi tidur sendiri Aku pula menyalakan lampu Bukan perkara takut,  ayah tenang saja. Sayup-sayup aku tetap merasakan bayangmu mataku tertutup kemudian. Selamat malam dan selamat tidur. Jangan lupa berdoa. -Malam hari di akhir maret 2018.

Belahan Jiwa

7 Juli 2017 8.02 Menyadarinya sejak awal Kalau saja berjalan lebih jauh dari ini Maka tak ada arah untuk kembali Tapi tetap saja Berjalan Hanya ingin berusaha Lebih keras lagi Siapa tau Itu berubah Langkah ini Harus dipercepat Atau justru diperlambat Jalan ini sudah jelas akhirnya Melintasi imaji Memaksa untuk tetap berada disini Berharap Tak ada yang tergangu Karena sudah terlambat untuk kembali Mungkin masih bisa Mungkin itu akan berubah Tapi bahkan sampai detik ini Meski telah tampak telanjang Apa-apa yang ada dalam benak Tak ada yang berubah Tak peduli seberapa lama lagi Kaki ini menopang Masihkah tak akan berubah Memang harus berhenti Sepenuhnya sadar untuk berhenti Ini telah mencapai batas Kaki-kaki tak lagi melangkah Tunduk akan akal Meski tak tau bagaimana dengan hati Takdir. Untuk menyerah.