Langsung ke konten utama

Postingan

Forever Blue

Mumpung sedang gabut. Kalau kata orang cowok tuh belum jadi "laki" kalau gak pernah main bola. Kalau kata orang lagi nih, cewek yang suka bola tuh katanya "tomboi" Faktanya ternyata gak gitu-gitu amat. Siapa bilang kejantanan diukur dari sepak bola? Pada kenyataanya olahraga yang katanya digandrungi penghuni sebumi ini gak cuma dimainin dan disukai sama kaum adam. Bersumber dari blog sebelah nih, sepak bola wanita katanya sih berkembang sekitar tahun 25 di Cina (Wow). Atmosfer sepak bola wanita kemudian mulai merabah ke Eropa sekitar tahun 1920-an, sayangnya meski respon baik ditunjukan oleh para penggemar sepak bola, FA malah buat peraturan pelarangan sepak bola wanita. Tapi peraturan itu dicabut di tahun 1970 dan hingga kini sepak bola wanita terus eksis nih. Apa mereka tomvoi? Gak selalu sih. Di sisi lain, gak semua cowok juga pengemar bola. Berdasarkan hasil pengamatan gua yang gak punya dasar statistik ini menunjukan cowok bisa dibagi dalam be...
Postingan terbaru

Tidur Sendiri di Malam yang Gelap

Aku memilih malam yang hening Ketika kening saling bertemu Adakalanya aku mensyukuri gelap Padahal artinya sulit terlelap Adakalanya aku menyukai takut Agar aku punya alasan, jadilah kamu disampingku Aku menyukainya, Cukuplah mengelus kepalaku Akupun terlelap dalam gelap. Tetaplah menepuk pundaku Biarkan jadi tanda kehadiranmu Aku akan tetap mematikan lampu Dan memanggilmu esok malam. Aku mendengar doamu-doamu, Karena malam terlalu hening - Sekarang aku jadi tidur sendiri Aku pula menyalakan lampu Bukan perkara takut,  ayah tenang saja. Sayup-sayup aku tetap merasakan bayangmu mataku tertutup kemudian. Selamat malam dan selamat tidur. Jangan lupa berdoa. -Malam hari di akhir maret 2018.

Radar

"Mencari-cari tambatan hati,  kau sahabatku sendiri.. " -Perahu Kertas The reason why i like this song, is.. Ibu suri dengan tepatnya menyasar para remaja-remaja labil. Yang sibuk mencari teman hidup. Tanpa tau bagaimana mempertahankan hidup. Cinta tidak selamanya berkorelasi dengan ada. Ada ungkapan. Ada sapaan. Ada pengakuan. Ada tindakan. Kadang kala sering kali bersembunyi dalam bilik. Ah,  tapi yang seakaan tak ada Punya daya yang lebih. Kadang kala. Kadang-kadang. Kalau saja selama ini kita telah berada dalam satu frekuensi yang sama Kenapa pula mencoba menyambungkan dengan radar milik orang lain. Kalau sinyal kita sudah tak lagi terbaca. Mengapa pula radarku tak pernah mati. Dan kenapa pula, selalu kuterima sinyal itu datang. Aku kerap kali menangkap radarmu Tiap kali kuberusaha mematikan radar sendiri Bagaimana kalau kita sepakati saja Biarkanlah kita mematikan radar sejenak. Jangan bertingkah layaknya remaja labil. Biar kita berdamai denga...

Tiga

Setidaknya hari ini puan mengerti, Gundah yang sering kali ada, Hanyalah tanda tuan tak lagi bercahaya dalam hati puan. Puan menyesali mungkin tindak baik puan hanya perkara sebab menaruh hati pada tuan. Setidaknya puan kerap kali mendahulukan perihal tuan. Puan tak bisa bergaung lantaran puan hanya ingin begini. Bahagia saja,  karena tuan begitu senang. Tak peduli bagaimana tuan, karena sejatinya puan hanya senang tau kabar tuan nampaknya sehat. Puan merasa tuan lama tak bersua, Puan mengerti tak perlulah puan tau segala tentang tuan. Puan memang tak perlu menjadi apapun untuk tuan. Puan juga tau tuan tak perlu curiga,  benar memang puan lama sudah buta karena tuan. Maaf, kalau saja puan salah tafsir. Mungkin seringkali puan mengira tuan nampak berlebihan baik pada puan. Inilah puan yang lemah tuan. Tapi untungnya puan tak pernah banyak meminta. Sebabnya bagi puan,  tak pernah ada masalah karena selama ini pula Tak pernah tuan tau Tak mau tuan t...

Terkapar

Seperti halnya aku,  kamu terkapar. Seperti halnya waktu,  kamu terlanjur. Tak kan pernah lagi bisa menengok. Seperti halnya lumut, Kemudian musnah Kala yang lain kemudian hari tumbuh. Kamu mencoba menjadi hutan Mengisi tandus Dengan asa baru Aku pula begitu Kurombak tanah Kala jamur-jamur datang Manghabiskan bangkaiku Sekiranya inilah yang menjadikanmu hutan Bagitulah pada akhirnya. Seperti air pada gelas kaca itu. Kamu akan memilih terus mengisi gelas kaca itu, tak peduli isinya terus menerus tumpah ruah Begitu basah Sementara aku biarkan saja gelasku. Amat bening hingga bisa kulihat wajahmu didalamnya. Dimana, disinilah kita berawal berpijak. Meski kerap ku tak ikutimu tuk melangkah Aku tetap pada nol derajat yang kita buat bersama. Titik yang menjadikanku. Seorang pioneer. Seorang "fasilitator" Kan ku lihat gelasmu kian terisi oleh banyak rupa cairan Kerap kali airnya keruh Sehingga tak ku pandang bayangku dalam gelasmu Kita terkap...

Mahakam

Riuk-riuk air di muara Arus deras yang memerangkap ikan Kami senang puas makan Kami gembira air tak begitu dangkal Sebab kami renang dalam sembunyi gelap Bukan karena pemalu Bahkan sesekali kami muncul Sekedar mengembungkan paru Alangkah tenang kami hidup Dibuai karena legenda Sayangnya kami tidaklah tau Jaring penuh ikan tanda bahaya Ingin makan malah ikut terjerat Habislah kami tak dapat menggapai muka air Kami lihat air kami semakin dangkal Maka kamipun pergi Beradu nasib di tempat ramai Sebabnya rumah kami hilang Rengge-rengge berjejer Menanti di tepian Yang kami tau hanyalah ikan santapan Cobalah teriakan pada kami Jangan mau mati konyol Kami hidup senang-senang Dimana melimpah ikan-ikan Kami bosan di muara pahu Karena yang disebut ikan hanyalah kami Padahal kami mamalia Kami Pesut Bukan Ikan Pesut

Himpunan Kosong

Kita dalam satu semesesta Dari sekian banyak populasi Kita adalah melebur jadi satu Dalam setiap kemungkinan yang terjadi Kitalah penyusun setiap kemungkinan Kejadian-kejadian acak dalam satu ruang Sayangnya, Semesta saja tak cukup menyatukan Kitalah sebuah elemen soliter Irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Maka kemudian kita saling lepas Kita dalam satu semesta Tapi irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Nyatanya "kita" hanyalah bagian kemungkinan kejadian