Langsung ke konten utama

Terkapar

Seperti halnya aku,  kamu terkapar.
Seperti halnya waktu,  kamu terlanjur.

Tak kan pernah lagi bisa menengok.
Seperti halnya lumut,
Kemudian musnah
Kala yang lain kemudian hari tumbuh.

Kamu mencoba menjadi hutan
Mengisi tandus
Dengan asa baru

Aku pula begitu
Kurombak tanah
Kala jamur-jamur datang
Manghabiskan bangkaiku

Sekiranya inilah yang menjadikanmu hutan
Bagitulah pada akhirnya.

Seperti air pada gelas kaca itu.
Kamu akan memilih terus mengisi gelas kaca itu,
tak peduli isinya terus menerus
tumpah ruah
Begitu basah

Sementara aku biarkan saja gelasku.
Amat bening hingga bisa kulihat wajahmu didalamnya.
Dimana, disinilah kita berawal berpijak.

Meski kerap ku tak ikutimu tuk melangkah
Aku tetap pada nol derajat yang kita buat bersama.

Titik yang menjadikanku.
Seorang pioneer.
Seorang "fasilitator"

Kan ku lihat gelasmu kian terisi oleh banyak rupa cairan
Kerap kali airnya keruh

Sehingga tak ku pandang bayangku dalam gelasmu
Kita terkapar bersama.
Tapi salahnya ku tak mampu bangun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himpunan Kosong

Kita dalam satu semesesta Dari sekian banyak populasi Kita adalah melebur jadi satu Dalam setiap kemungkinan yang terjadi Kitalah penyusun setiap kemungkinan Kejadian-kejadian acak dalam satu ruang Sayangnya, Semesta saja tak cukup menyatukan Kitalah sebuah elemen soliter Irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Maka kemudian kita saling lepas Kita dalam satu semesta Tapi irisan kita hanyalah sebuah himpunan kosong Nyatanya "kita" hanyalah bagian kemungkinan kejadian

Tidur Sendiri di Malam yang Gelap

Aku memilih malam yang hening Ketika kening saling bertemu Adakalanya aku mensyukuri gelap Padahal artinya sulit terlelap Adakalanya aku menyukai takut Agar aku punya alasan, jadilah kamu disampingku Aku menyukainya, Cukuplah mengelus kepalaku Akupun terlelap dalam gelap. Tetaplah menepuk pundaku Biarkan jadi tanda kehadiranmu Aku akan tetap mematikan lampu Dan memanggilmu esok malam. Aku mendengar doamu-doamu, Karena malam terlalu hening - Sekarang aku jadi tidur sendiri Aku pula menyalakan lampu Bukan perkara takut,  ayah tenang saja. Sayup-sayup aku tetap merasakan bayangmu mataku tertutup kemudian. Selamat malam dan selamat tidur. Jangan lupa berdoa. -Malam hari di akhir maret 2018.

Belahan Jiwa

7 Juli 2017 8.02 Menyadarinya sejak awal Kalau saja berjalan lebih jauh dari ini Maka tak ada arah untuk kembali Tapi tetap saja Berjalan Hanya ingin berusaha Lebih keras lagi Siapa tau Itu berubah Langkah ini Harus dipercepat Atau justru diperlambat Jalan ini sudah jelas akhirnya Melintasi imaji Memaksa untuk tetap berada disini Berharap Tak ada yang tergangu Karena sudah terlambat untuk kembali Mungkin masih bisa Mungkin itu akan berubah Tapi bahkan sampai detik ini Meski telah tampak telanjang Apa-apa yang ada dalam benak Tak ada yang berubah Tak peduli seberapa lama lagi Kaki ini menopang Masihkah tak akan berubah Memang harus berhenti Sepenuhnya sadar untuk berhenti Ini telah mencapai batas Kaki-kaki tak lagi melangkah Tunduk akan akal Meski tak tau bagaimana dengan hati Takdir. Untuk menyerah.