Seperti halnya aku, kamu terkapar.
Seperti halnya waktu, kamu terlanjur.
Tak kan pernah lagi bisa menengok.
Seperti halnya lumut,
Kemudian musnah
Kala yang lain kemudian hari tumbuh.
Kamu mencoba menjadi hutan
Mengisi tandus
Dengan asa baru
Aku pula begitu
Kurombak tanah
Kala jamur-jamur datang
Manghabiskan bangkaiku
Sekiranya inilah yang menjadikanmu hutan
Bagitulah pada akhirnya.
Seperti air pada gelas kaca itu.
Kamu akan memilih terus mengisi gelas kaca itu,
tak peduli isinya terus menerus
tumpah ruah
Begitu basah
Sementara aku biarkan saja gelasku.
Amat bening hingga bisa kulihat wajahmu didalamnya.
Dimana, disinilah kita berawal berpijak.
Meski kerap ku tak ikutimu tuk melangkah
Aku tetap pada nol derajat yang kita buat bersama.
Titik yang menjadikanku.
Seorang pioneer.
Seorang "fasilitator"
Kan ku lihat gelasmu kian terisi oleh banyak rupa cairan
Kerap kali airnya keruh
Sehingga tak ku pandang bayangku dalam gelasmu
Kita terkapar bersama.
Tapi salahnya ku tak mampu bangun.
Seperti halnya waktu, kamu terlanjur.
Tak kan pernah lagi bisa menengok.
Seperti halnya lumut,
Kemudian musnah
Kala yang lain kemudian hari tumbuh.
Kamu mencoba menjadi hutan
Mengisi tandus
Dengan asa baru
Aku pula begitu
Kurombak tanah
Kala jamur-jamur datang
Manghabiskan bangkaiku
Sekiranya inilah yang menjadikanmu hutan
Bagitulah pada akhirnya.
Seperti air pada gelas kaca itu.
Kamu akan memilih terus mengisi gelas kaca itu,
tak peduli isinya terus menerus
tumpah ruah
Begitu basah
Sementara aku biarkan saja gelasku.
Amat bening hingga bisa kulihat wajahmu didalamnya.
Dimana, disinilah kita berawal berpijak.
Meski kerap ku tak ikutimu tuk melangkah
Aku tetap pada nol derajat yang kita buat bersama.
Titik yang menjadikanku.
Seorang pioneer.
Seorang "fasilitator"
Kan ku lihat gelasmu kian terisi oleh banyak rupa cairan
Kerap kali airnya keruh
Sehingga tak ku pandang bayangku dalam gelasmu
Kita terkapar bersama.
Tapi salahnya ku tak mampu bangun.
Komentar
Posting Komentar