Page 1 of 366
Mungkin sedikit terlambat untuk menuliskan ini.
tapi tak mengapa.
Terakhir kali kuingat, permen.
kau memberiku permen tiap kali usai kerja.
kenangan termanis dan salah satu dari beberapa yang bisa kuingat.
Hampir 19 tahun aku hidup, kurang lebih 5 tahun kuhabiskan waktu denganmu, aku mengingatmu jelas. Lelaki terbaik dalam kisah hidupku.
Dari mana harus aku memulainya Ayah?
Aku hanya gadis biasa dan punya mimpi. Seperti mereka kebanyakan.
Aku hanya ingin menceritakan kepadamu
betapa banyak sekali nikmat yang diberikan kepadaku hingga akhir tahun ini. 2015.
Aku bukan gadis yang baik, tapi selalu mendapat kebaikan.
Aku seorang pemimpi, sepertimu. Semoga.
Semua dimulai ketika aku pertama kali mengenakan putih abu-abu. Aku masuk disebuah sekolah, bukan yang kuinginkan. Aku ditolak, oleh sekolah yang lainya. Jadi, hanya ini pilihanku. Tapi percayalah Allah tau dimana tempat terbaik. Kenikmatan pertama yang wajib kusyukuri, aku bersekolah dimana aku memiliki mereka yang kusebut teman, sahabat dan keluarga keduaku. Tempat dimana aku mulai belajar bagaimana hidup dan menghargai orang lain. Dimana aku mulai belajar bahwa untuk meraih dunia kau pantas berjuang.
Aku punya sebuah mimpi saat tinggiku tak sampai pundak ibuku. Aku duduk disekolah dasar, dan aku bermimpi. Aku ingin menjadi seorang peneliti. Konyol. Aku malas menjelaskan apa itu peneliti, semua temanku bingung. Pokoknya yang kulihat keren, ya disebuah acara tv. Aku menemukan cita-citaku lewat sebuah kotak visual. Kuputuskan, aku suka itu.
Kata ibu peneliti itu macam-macam. Ingin jadi ahli apa aku?. Pelajaran termudah pikirku, bagaimana ular berjalan? Apakah kucing mengeong atau menggongong?. Ah aku tau, biologi pikirku. Aku mengenal sebutan itu kali pertama saat ku di SMP.
Jauh sebelum itu, sejak SD aku sudah ingin berkuliah. Karena kata ibu, kalau aku ingin jadi peneliti aku harus kuliah. Dimana? Disana. Di kota kelahiranku.
Dan mimpi itu semakin dekat kala aku sampai di detik perjuanganku, singkat cerita akulah gadis kecil yang kemudian duduk termenung memikirkan betapa bahagianya bermimpi. Dan ini waktuku untuk bangun, and make it happen!
Aku rasa orang-orang menjadi lebih egois saat duduk di bangku kelas 12. Karena semuanya bermimpi, mereka bersaing. Tapi perjuangan gak cuma sekedar cerita sikut-menyikut. Ada kisah dimana kita saling bahu-membahu. Dan kurasakan itu, terima kasih untuk teman sekelasku dan teman terbaiku, yang rela duduk bersamaku. Disampingku. Kita belajar bersama. Dan berusaha membuat mimpi itu nyata.
Banyak yang bilang aku harusnya punya cadangan untuk mimpiku, mereka bilang itu terlalu tinggi. Tahun kemarin hanya satu orang kakak kelasku yang masuk disana, ya tempat kuliah yang kuimpikan. Sejak lama.
Tapi ada yang begitu percaya, kekuatan sepertiga malam adalah kunci keajaiban. Terima kasih, ibu.
Semakin dekat aku semakin takut, bagaimana kala mimpi itu tak tercapai. Semua yang kita inginkan tak selamanya terwujud. Tapi tak apa, aku pernah ditolak. Kurasa itu baik. Mungkin.
Aku hanya menikmati, muaknya menjawab. Soal-soal menumpuk di pelipisku, dahiku penuh kerutan. Aku suka itu, ungkapan palsu. Kapan ini berakhir:").
Aku hampir putus asa, kemudian aku hanya mengingat ayah. Dan menuliskan sebuah surat untuknya. Aku gadis remaja yang menuju dewasa. Aku gadis pemalas. Aku jarang membantu ibu, tidak peka dan banyak kekurangan. Tapi aku sayang ibuku, dan aku ingin membahagiakanya maka berilah aku kesempatan, dan aku berdoa.
Ketika kulewati hampir semuanya, pengumuman tiba. Aku. Diterima. Tak perlu ikut tes. Pengumumanya hijau. Allah, adakah kata yang lebih indah dari hamdallah. Kalau hambamu ini hina, aku semakin hina karena kenikmatanmu benar adanya. Dan kau berikan itu, padaku. Kemudian aku yakini.
Mungkin sedikit terlambat untuk menuliskan ini.
tapi tak mengapa.
Terakhir kali kuingat, permen.
kau memberiku permen tiap kali usai kerja.
kenangan termanis dan salah satu dari beberapa yang bisa kuingat.
Hampir 19 tahun aku hidup, kurang lebih 5 tahun kuhabiskan waktu denganmu, aku mengingatmu jelas. Lelaki terbaik dalam kisah hidupku.
Dari mana harus aku memulainya Ayah?
Aku hanya gadis biasa dan punya mimpi. Seperti mereka kebanyakan.
Aku hanya ingin menceritakan kepadamu
betapa banyak sekali nikmat yang diberikan kepadaku hingga akhir tahun ini. 2015.
Aku bukan gadis yang baik, tapi selalu mendapat kebaikan.
Aku seorang pemimpi, sepertimu. Semoga.
Semua dimulai ketika aku pertama kali mengenakan putih abu-abu. Aku masuk disebuah sekolah, bukan yang kuinginkan. Aku ditolak, oleh sekolah yang lainya. Jadi, hanya ini pilihanku. Tapi percayalah Allah tau dimana tempat terbaik. Kenikmatan pertama yang wajib kusyukuri, aku bersekolah dimana aku memiliki mereka yang kusebut teman, sahabat dan keluarga keduaku. Tempat dimana aku mulai belajar bagaimana hidup dan menghargai orang lain. Dimana aku mulai belajar bahwa untuk meraih dunia kau pantas berjuang.
Aku punya sebuah mimpi saat tinggiku tak sampai pundak ibuku. Aku duduk disekolah dasar, dan aku bermimpi. Aku ingin menjadi seorang peneliti. Konyol. Aku malas menjelaskan apa itu peneliti, semua temanku bingung. Pokoknya yang kulihat keren, ya disebuah acara tv. Aku menemukan cita-citaku lewat sebuah kotak visual. Kuputuskan, aku suka itu.
Kata ibu peneliti itu macam-macam. Ingin jadi ahli apa aku?. Pelajaran termudah pikirku, bagaimana ular berjalan? Apakah kucing mengeong atau menggongong?. Ah aku tau, biologi pikirku. Aku mengenal sebutan itu kali pertama saat ku di SMP.
Jauh sebelum itu, sejak SD aku sudah ingin berkuliah. Karena kata ibu, kalau aku ingin jadi peneliti aku harus kuliah. Dimana? Disana. Di kota kelahiranku.
Dan mimpi itu semakin dekat kala aku sampai di detik perjuanganku, singkat cerita akulah gadis kecil yang kemudian duduk termenung memikirkan betapa bahagianya bermimpi. Dan ini waktuku untuk bangun, and make it happen!
Aku rasa orang-orang menjadi lebih egois saat duduk di bangku kelas 12. Karena semuanya bermimpi, mereka bersaing. Tapi perjuangan gak cuma sekedar cerita sikut-menyikut. Ada kisah dimana kita saling bahu-membahu. Dan kurasakan itu, terima kasih untuk teman sekelasku dan teman terbaiku, yang rela duduk bersamaku. Disampingku. Kita belajar bersama. Dan berusaha membuat mimpi itu nyata.
Banyak yang bilang aku harusnya punya cadangan untuk mimpiku, mereka bilang itu terlalu tinggi. Tahun kemarin hanya satu orang kakak kelasku yang masuk disana, ya tempat kuliah yang kuimpikan. Sejak lama.
Tapi ada yang begitu percaya, kekuatan sepertiga malam adalah kunci keajaiban. Terima kasih, ibu.
Semakin dekat aku semakin takut, bagaimana kala mimpi itu tak tercapai. Semua yang kita inginkan tak selamanya terwujud. Tapi tak apa, aku pernah ditolak. Kurasa itu baik. Mungkin.
Aku hanya menikmati, muaknya menjawab. Soal-soal menumpuk di pelipisku, dahiku penuh kerutan. Aku suka itu, ungkapan palsu. Kapan ini berakhir:").
Aku hampir putus asa, kemudian aku hanya mengingat ayah. Dan menuliskan sebuah surat untuknya. Aku gadis remaja yang menuju dewasa. Aku gadis pemalas. Aku jarang membantu ibu, tidak peka dan banyak kekurangan. Tapi aku sayang ibuku, dan aku ingin membahagiakanya maka berilah aku kesempatan, dan aku berdoa.
Ketika kulewati hampir semuanya, pengumuman tiba. Aku. Diterima. Tak perlu ikut tes. Pengumumanya hijau. Allah, adakah kata yang lebih indah dari hamdallah. Kalau hambamu ini hina, aku semakin hina karena kenikmatanmu benar adanya. Dan kau berikan itu, padaku. Kemudian aku yakini.
Kelihatanya mudah seperti kata orang tuamu, kau hanya perlu berdoa dan belajar. Tapi ada satu hal yang membawaku merasakan seperti apa rasanya mimpi yang menjadi nyata. Istiqomah. Aku belajar bahwa doaku dan usahaku tak akan membawaku sampai disini tanpa adanya sebuah pengikat, istiqomah. Tentukanlah cita-citamu, dan istiqomahlah terhadap itu. Kemudian kau hanya perlu percaya. Biarkanlah walau itu tak mungkin. Allah punya jalanya:).
Setiap kali aku berdoa, selalu kuselipkan kata-kata. Aku ingin kuliah disana ditempat itu dijurusan yang kuinginkan tanpa tes, aku mengucapkan itu setidaknya 5 kali dalam sehari, karena beruntungnya diriku sholat wajib ada 5 waktu. Dan aku tak percaya. Doaku terkabul. Aku benar-benar mengucapkanya selama tiga tahunku di SMA. Tak berubah, sedikitpun.
Usahamu akan membantu setelah doamu, karena itulah selalu usahakan agar setiap langkahmu adalah usahamu sendiri. Tak perlu coba-coba yang instan. Aku bukan gadis yang baik, aku juga pernah khilaf. Aku pernah mencontek misalnya, tapi marilah berusaha. Tak peduli seberapa buruk nilaimu dalam selembar kertas hanya usahamu sendiri yang dihitung olehNya, jadi berusahalah semampumu.
Lalu, setelah mimpi yang menjadi nyata ini. Sudah berakhirkah mimpiku? Aku bilang aku ingin menjadi peneliti bukan mahasiswa. Jadi? Aku masih harus berjuang.
Ini kisah awalku, dan aku semakin belajar saat aku memulai kisahku di bangku kuliah.
Tapi sebelum menceritakan kisahku di bangku kuliah. Lembar ini hanya aku khususkan sebagai tanda terima kasih, untuk kalian yang telah percaya pada mimpiku dan mendoakanku,
Untuk teman-teman sejatiku, terima kasih telah menerimaku sebagai temanmu.
Untuk sahabat-sahabatku, yang tak perlu kusebutkan namanya kalian luar biasa. Untukmu yang duduk disebelah bangkuku kau sangat luar biasa, terima kasih.
Untuk guru-guruku. Yang mungkin membenciku dan yang mungkin pula menyukaiku, terima kasih. Kau pahlawan tanpa tanda jasa.
Untuk kalian yang turut mendoakanku dalam diam, kudoakan kembali, terima kasih.
Untuk keluargaku, adik tersayangku.
Untuk Ayahku, yang kuadukan keluhku padamu.
Untuk ibuku, yang sangat luar biasa. Yang terbaik dari yang terbaik.
terima kasih.
Aku mendoakan kesuksesan untuk kalian, semoga Allah selalu memberikan jalanya untuk kalian, kunharap kita kembali bertemu dilain waktu di tempat yang indah, selain fananya dunia ini.

Komentar
Posting Komentar